Senin, 05 Maret 2012
KEUNTUNGAN MENJADI ORANG MISKIN
Jadi orang miskin emangnya enak?
Hidup payah, semua serba susah,
tidak pernah bahagia, jarang mencicipi makanan
enak, terpinggirkan, pakaian tidak pernah berganti
dan lain-lain. Ini
adalah sebagian stigma yang melekat pada orang
miskin. Apakah stigma ini benar adanya atau hanya sebuah stereotype sosial?
Jelas penilaian tersebut adalah sebuah stereotype
sosial karena belum tentu orang miskin seperti yang
dikatakan diatas, bahkan keadaan yang dirasakan
oleh orang miskin bisa sebaliknya. Mengenai
kebahagiaan, karena dia adalah perasaan subjektif, maka untuk mengungkapkan
bahagia tidaknya seseorang maka penilaiannya juga
harus subbjektif, artinya bahwa perasaan senang
atau susah harus diungkapkan langsung oleh yang
bersangkutan, bukan sebuah generalisasi atau fakta
yang dilihat dari luar. Penilaian yang objektif justru akan mengaburkan dan kemungkinan akan bertolak
belakang dengan fakta yang sesungguhnya.
Benarkah orang mi
skin identik dengan kesusahan?
Sebagai seorang y
ang dilahirkan dari keluarga miskin,
dan masih tetap miskin sampai sekarang, ternyata
kebahagiaan itu selalu datang menyertai, dan saya rasa semua orang miskin sama seperti apa yang saya
rasakan. Kebahagian itu adalah milik semua orang,
dan porsi terbesar kebahagiaan ada pada orang
miskin, karena hal-hal berikut ini: Orang Miskin
Biasanya Mudah
Bersosialisasi dan Berdaptasi Jangan minder jadi orang miskin,
karena tidak semua orang dapat hidup dalam
keadaan seperti ini. Kita adalah orang kuat. Memang
penampilan terkadang terlihat norak, tapi lebih norak
lagi jika orang kaya jadi orang miskin.
Karena dibesarkan dalam keluarga dan masyarakat yang terbuka, sehingga sosialisasi dan adaptasi
dengan orang-orang adalah hal yang paling
menguntungkan. Jarang ada orang miskin mengalami
kelainan tingkah laku seperti menarik diri dari
pergaulan sosial. Dalam hal pekerjaan, orang miskin
paling bisa beradaptasi, mereka bisa menduduki posisi dimasa saja, dari kuli bangunan hingga
menjadi seorang manager. Ini karena orang miskin
biasanya ditempa dengan kehidupan yag keras.
Keluarga yang
Penuh Cinta dan
Perhatian Biasanya, karena sibuk mengurus dan menambah
perbendaharaan harta, seseorang tidak mempunyai
waktu untuk memperhatikan keluarga. Urusan rumah
tangga adalah urusan pembantu. Jadilah anak
mereka seperti mental pembantu, kurang perhatian
dan kasih sayang. Mereka biasanya tidak mencerminkan tingkah laku yang sama dengan orang
tuanya, tetapi mencontoh tingkah laku pengasuhnya.
Mungkin masih lumayan jika pembantunya mengerti
tentang bagaimana merawat perkembangan
anak, kalau tidak, bisa jadi anak mereka menjadi
sesuatu yang “lain”. Dalam keluarga miskin, mungkin waktu lebih banyak
dihabiskan bersama dan bercengkerama dengan
keluarga. Dan inilah kebahagiaan terbesar yang yang
dialami oleh suatu tumah tangga. Bercanda, ngobrol,
bukti bahwa mereka hidup bahagia. Keluarga adalah
tempat tinggal dan tujuan utama. Hidup Miskin Makan Selalu
Enak Mungkin ini adalah sebuah fakta yang tidak
masuk akal, tetapi ini sebuah kenyataan. Bagi orang
miskin, makan hari ini, walaupun sekadarnya, dan
menu yang tidak menarik bagi orang kaya, tetapi
bagi mereka adalah sebuah kenikmatan terbesar. Mereka akan bersyukur dengan rezeki hari ini.
Berbeda dengan orang kaya, walaupun makanannya
terlihat lezat-lezat, tetapi tidak senikmat orang
miskin jika makan. Orang kaya takut kolesterol, takut
jerawatn, takut penyakit jantung dan lain-lain. Jika
orang kaya makan ditempat orang miskin, bisa dipastikan mereka tidak akan sanggup, dan
kemungkinan akan kena berbagai penyakit, karena
tidak adanya anti bodi mereka terhadap makanan
yang biasa dikonsumsi oleh orang miskin yang
kadang mengandung bakteri berlebih. Tak Perlu
Khawatir untuk Hari Esok Hari esok adalah sebuah penantian yang
belum pasti, entah masih hidup atau sudah mati.
Bukan berarti tidak ada persiapan dan usaha untuk
hari esok, tetapi kehidupan hari esok jangan terlalu
dirisaukan, apalagi menimbulkan stress. Karena hari
esok adalah masalah baru dan butuh pemecahan masalah dan selusi yang terbaru. Cukuplah hari
kemarin dan hari ini adalah pelajaran untuk
menghadapi hari esok.
Kekhawatiran akan jatuh
jatuh miskin bagi orang kaya, ketakutan bangkrut
adalah bukti tidak adanya rasa syukur dan biasanya rakus. Ini adalah penyakit orang kaya. Bisa
dipastikan, tidak ada
waktu bagi mereka untuk bahagia dan bercanda hari
ini, karena waktu bagi mereka adalah uang, padahal
uang itu ibarat minum air laut, tambah minum tambah
terasa haus. Tujuan hidup sebenarnya bukanlah uang, tetapi untuk
menciptakan
kebahagiaan. Dan itu lebih banyak dimamfaatkan
oleh orang hidup miskin. Mereka mempunyai waktu
untuk merasakan kebahagiaan itu. Semakin bahagia
seseorang, semakin terasa bermamfaat hidup didunia.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar